Di lembah keasingan aku duduk terdiam
Hanyut dalam renung di pengasingan
Larut dalam kepahitan yang kau berikan
Merasakan pedih luka yang kau siramkan
Jeritan tak mampu lagi membangkit sukma
Bisik angin tak mampu menggubis
Kicau burung tak mampu lagi menceriakan
Sapa lembut sang rembulanpun tak kuhiraukan
Jiwaku telah mati
Angkaramu telah menjadi kafan jiwaku
Terbalut bersama kepedihan yang kau sebar
Keangkuhan dan curigamu menjadi bunga pusara jiwaku
Saat ini pun
Bening di mata tiada guna
Hanya menambah penat dalam diriku
Menggoreskan kepedihan tiada terkira
Aku hanya bisa tersenyum dalam kepahitanku
Menapaki beban penderitaan di setiap langkahku
Mendaki bukit terjal bersama kesabaran hatiku
Mengobati gores luka walau kutahu pasti membekas
Harmoni ini menyadarkan aku akan satu kebenaran
Akan kasih sayang, cinta dan kesetiaan yang ada padaku
Yang harus terkubur dalam pusara cintaku
Dalam kelam dan kepahitan terpanjang
Pengelana Dalam Sunyi
PDS/24/9/11/Cat

Hanyut dalam renung di pengasingan
Larut dalam kepahitan yang kau berikan
Merasakan pedih luka yang kau siramkan
Jeritan tak mampu lagi membangkit sukma
Bisik angin tak mampu menggubis
Kicau burung tak mampu lagi menceriakan
Sapa lembut sang rembulanpun tak kuhiraukan
Jiwaku telah mati
Angkaramu telah menjadi kafan jiwaku
Terbalut bersama kepedihan yang kau sebar
Keangkuhan dan curigamu menjadi bunga pusara jiwaku
Saat ini pun
Bening di mata tiada guna
Hanya menambah penat dalam diriku
Menggoreskan kepedihan tiada terkira
Aku hanya bisa tersenyum dalam kepahitanku
Menapaki beban penderitaan di setiap langkahku
Mendaki bukit terjal bersama kesabaran hatiku
Mengobati gores luka walau kutahu pasti membekas
Harmoni ini menyadarkan aku akan satu kebenaran
Akan kasih sayang, cinta dan kesetiaan yang ada padaku
Yang harus terkubur dalam pusara cintaku
Dalam kelam dan kepahitan terpanjang
Pengelana Dalam Sunyi
PDS/24/9/11/Cat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar