Di ujung perjalanan,
Kami berhenti dan saling menatap
Ada sesal dalam keputusan
Ada tangis dalam jabat
Keputusan ini teramat pahit bahkan getir
Semua adalah buah dari putus asa akan keberadaan
Dimana ego berbicara di depan sekeras batu karang
Hempas riak ombak tak pernah mampu meruntuhkannya
Saat aku genggam tangannya
Dia terdiam dalam seribu bahasa
Keindahannya berubah menjadi sebuah kepahitan
Laksana awan mendung yang menari indah di tengah gerimis
Desah nafas kala kurengkuh dalam dekap
Melemahkan aku dalam satu kenyataan
Akan bening yang menggenangi kelopak mata
Menjerit, merintih dan memohon padaMU Tuhan
Jangan pisahkan aku dengannya
Jangan rampas kebahagiaan yang sedang kurajut
Jangan runtuhkan istana yang telah kubangun
Jangan siksa aku dalam penyesalan tak berujung
Bening setia menemani langkahku
Bisik lembutnya menghantar aku
Tangis terasa menyesak dadaku
Lambai tangan mengiring kepergianku
Inilah Jalan yang harus kutempuh......
Pengelana Dalam Sunyi
PDS/26/8/11

Kami berhenti dan saling menatap
Ada sesal dalam keputusan
Ada tangis dalam jabat
Keputusan ini teramat pahit bahkan getir
Semua adalah buah dari putus asa akan keberadaan
Dimana ego berbicara di depan sekeras batu karang
Hempas riak ombak tak pernah mampu meruntuhkannya
Saat aku genggam tangannya
Dia terdiam dalam seribu bahasa
Keindahannya berubah menjadi sebuah kepahitan
Laksana awan mendung yang menari indah di tengah gerimis
Desah nafas kala kurengkuh dalam dekap
Melemahkan aku dalam satu kenyataan
Akan bening yang menggenangi kelopak mata
Menjerit, merintih dan memohon padaMU Tuhan
Jangan pisahkan aku dengannya
Jangan rampas kebahagiaan yang sedang kurajut
Jangan runtuhkan istana yang telah kubangun
Jangan siksa aku dalam penyesalan tak berujung
Bening setia menemani langkahku
Bisik lembutnya menghantar aku
Tangis terasa menyesak dadaku
Lambai tangan mengiring kepergianku
Inilah Jalan yang harus kutempuh......
Pengelana Dalam Sunyi
PDS/26/8/11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar