sejenak kutatap wajahmu
kau diam dalam seribu bahasa
mata sembabmu memberi tanda
sebuah kepedihan telah kau temui
sahabat tercinta
aku lihat deritamu
aku juga merasakan pedihmu
andai ku bisa
akan ku angkat semua itu
kucampakkan di laut
agar semuanya tiada tersisa
detik aku terdiam dalam hening
aku bertanya dalam diamku
apakah aku sahabat terbaik untukmu
aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyenangkanmu
ingin rasanya aku pergi dari hadapanmu
ingin rasanya aku berteriak sekuatku
oh Tuhan,
mengapa ini terjadi padaku
aku hanya diam dalam luka sahabatku
sungguh aku bukanlah sahabat terbaik
seandainya diperkenankan
izinkan aku menggantikannya
izinkan aku merasakan perdih hatinya
izinkan.........
Cemara Semenanjung Everest
CSE/4/10/11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar