di rumah ini aku tinggal
rumah kumuh dan beratap lusuh
kamar yang kecil jantungku tergolek dipan tua
terpisah oleh dinding hatiku yang rapuh
serambi depannya berhias rumput liar gejolak jiwaku
Beratap rombeng yang setiap saat dapat meruntuhkan keteguhanku
penerangannya pun redup, seredup hatiku
kisi jendela hatiku tertutup lembaran koran kehidupanku
aku duduk di bangku kayu seraphu hatiku
yang setiap saat dapat patah bersama semangatku
di sudut itu aku tergantung cermin jiwaku
memantulkan bayangan menakutkan akan keberadaanku
kaki pondasi yang menopang rumahku
termakan rayap yang mengerogoti langkahku
perkaranganku kini tak berhias lagi
kering dan bertandus laksana hatiku
langkah lusuhku menyusur pintu utama hatiku
kutatap langit kelam sanubariku
darahku berdesir hebat dan mendorong aku pada doaku
mengucap syukur atas segala nikmat dalam lembar hidupku
Cemara Semenanjung Everest
CSE/25/9/11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar